My Blog List

Monday, March 13, 2017

cerita cinta SELAMAT TINGGAL...



SELAMAT TINGGAL...


Pagi ini, aku bangun gak seperti hari biasanya. Mataku terbuka tanpa aku mendengar suara alarm handphoneku yang sebelumnya tak pernah nihil untuk membangunkanku tiap pagi dan kulihat handphone mungilku masih tergeletak di samping bantal. Namun kupikir itu gak jadi masalah, soalnya aku masih bisa bangun tepat waktu. Cepat-cepat kusingkapkan selimutku dan segera melipatnya dengan rapi dan akupun segera beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi, aku segera mengenakan seragam putih abu-abu’ku dan setelah itu aku beranjak ke rak sepatu dan segera memakai sepatu hitam bertali lengkap dengan kaos kaki putih.

Setelah persiapanku selesai, akupun keluar dari kamar. Kuturuni anak-anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah. “Aneh!!!”, pikirku dalam hati. Mulai kapan suasana rumahku jadi sunyi seperti saat ini???
“maaa….”, panggilku memecah kesunyian rumahku. Namun tak ada jawaban sama sekali. “Mungkin mama sedang pergi ke pasar.”, gumamku. Kucoba untuk memanggil papaku,mungkin papa belum berangkat ke kantor pikirku.
“paaa…papa…”,tak ada jawaban yang kudengar. “Apakah semuanya sedang tidak ada di rumah?”,gumamku lagi.
Lalu aku pun duduk di kursi meja makan dan kulihat tak ada satupun lembaran roti tawar dan selai coklat kesukaanku terletak di meja makan, tak seperti hari-hari biasanya. “ Apa mama terlalu sibuk hari ini sampe ‘ nggak nyiapin sarapan buat aku?”, gumamku yang masih heran dengan keadaan pagi ini. Namun sulit juga dipertanyakan, karena tak ada seorangpun yang bisa kucerca dengan berbagai pertanyaan dariku. Segera kuambil tas dan map plastik bergambar micky mouse yang sudah kusiapkan dan kuletakkan di atas ranjangku. Kemudian aku siap untuk berangkat sekolah seperti biasanya, meski tanpa aku berpamitan kepada papa dan mama. Segera aku menuju ke garasi dan kilihat mobil jazz putihku tak ada di tempat. Aku pun jadi bingung. “Kemana mobilku? Apa dipinjem papa? Tapi kok gak bilang ya?”, batinku dalam hati.Aaah, ya udah’lah, naek angkot juga bisa..
***

“Sopir angkot tu pada buta kali ya? Ada penumpang kok malah ngeloyor aja!! Udah panas-panas gini.”, gerutuku sambil mengusap keringat yang mulai membasahi keningku. ( Maklum gak pernah naek angkot,jeeng..!! hahaha..:-D). Namun tak berapa lama datang Tante Rina, tetanggaku, dan kusapa beliau, “ Tante”, sambil kubuka bibirku untuk menampilkan senyum manisku (Gula aja kalah manis...:-D). Namun tak kusangka, Tante Rina yang biasanya ramah sama aku, justru berbalik 180°. Tak ada jawaban satu kata pun darinya, senyum pun tak ada. Justru ia sibuk dengan handphonenya. Sepertinya handphonenya masih baru, mungkin karena itu Tante Rina jadi super cuek sama aku. Tapi ya sudahlah, kumaklumi. Dan aku konsentrasi lagi untuk menyegat angkot dan mulai melambai-lambaikan tanganku dengan gemulai. Setelah tiga angkot yang lewat tanpa mempedulikanku, akupun mulai menyerah. “Sulit banget sih nyegat angkot?!?!..”, gumamku dengan dongkol sambil mengusap dahi yang sudah berkeringat sebesar jagung. Kemudian kulihat Tante Rina melambaikan tangan untuk menyegat angkot dan angkot pun berhenti. Sesaat kupikir, “kenapa ya? Apa sopir-sopir angkot ne pilih-pilih kalo cari penumpang? Giliran Tante Rina aja yang nyegat,langsung berenti. Boro-boro aku, malah gak ada yang mau berenti”. Tapi ya sudahlah, kalu begini aku juga dapet untungnya. Akupun naik ke dalam angkot yang berwana biru itu. Aku sengaja duduk di sisi dekat pintu, karena aku suka mabok darat kalau naik angkot. Hehehe. Kulihat Tante Rina duduk di sisi pojok angkot dengan masih asyik sama handphone barunya dan sekali-sekali juga telepon. Jadinya kutahan mulut ini untuk menyapanya hingga mengganggu aktivitasnya dengan handphone baru tersebut. Hingga akhirnya sampailah di depan sekolahku dan akupun turun.

Kelas sepi banget, hampir semua teman-teman satu kelas tidak masuk dan yang ada hanya Sella, Risa, Dian, dan Oza serta aku yang duduk sendiri di baris ketiga dari depan dan berjarak agak jauh dari yang lainnya. Sengaja aku duduk berjauhan dari mereka, soalnya aku memang gak terlalu suka dengan mereka yang sok kaya dan hobbynya yang cuma shopping..shopping…dan shopping.. Tapi ya udah deh, biarin aja... Bel awal pelajaran pun berbunyi dan kulihat dari jendela terlihat Pak Danu menuju ke kelas. Dan sesampainya di kelas..
“ Assalamualaikum, anak- anak. Pagi ini suasana kelas sangat sepi ya. Mungkin lagi berduka semua akan kepergian teman kalian.”, sapa Pak Danu sambil meletakkan map serta buku-buku yang dibawanya ke atas meja.
“ Berduka karna siapa, Pak?”, tanyaku penasaran. Namun tak ada jawaban. Pak Danu justru mengajak berdoa untuk mengawali pelajaran.
“ Sialan!! Kok gak ada yang bilang sih kalo sekarang ini ada mbolos massal?!?!?”, celotehku kesal sambil menyalin tulisan Pak Danu di papan tulis. Di lain sisi, akupun juga memperhatikan Sella yang tak tahu kenapa hari ini terlihat murung ataupun sedih, begitupun dengan tiga sahabatnya. Akupun bertanya-tanya dalam hati, “kenapa tu anak-anak shopaholic mukanya pada sedih gitu ya?”, lalu “ mau nanya, males aahhh..biarin deh, emang aku pikirin.” . Kembali aku konsen untuk menulis catatanku lagi.
***

Pulang sekolah akupun berniat untuk mampir ke rumah Rizal, pacarku yang sudah mendampingi aku kurang lebih 3 tahun. Usianya memang cukup tua dibandingkan aku, kita terpaut usia 6 tahun. Namun bagiku itu tak jadi masalah, yang terpenting adalah ketulusan cintanya ke aku dan papa serta mama pun mendukung hubungan kami. Justru papa dan mama menyarankan agar Rizal segera menikahiku saat usiaku sudah 21 tahun, kira-kira masih 3 tahun lagi. Alasan yang sering dikemukakan adalah takut Rizalnya jadi tambah tua.Hahahaha…:-D

Akupun naik angkot lagi menuju rumah Rizal. Rasanya panas banget di dalam angkot meskipun hanya aku saja penumpang yang tertinggal satu-satunya di dalam angkot. Segera kuambil satu buah buku tulis yang lumayan tipis dan mulai kukipas-kipaskan ke wajahku untuk mengatasi suhu panas yang ada di dalam angkot ini. “ Gara-gara mobilku pake ng’ilang segala sih, jadi panas-panasan gini deh”, omelku.

Di perjalanan, ada satu hal yang menarik perhatianku. Setelah angkot yang kutumpangi melewati kantor polisi yang tidak jauh dari rumah Rizal, terlihat ada mobil yang kondisinya rusak banget plus peyok, “kayak’nya mobil ini baru kecelakaan deh, parah banget tuh sampai rusak berat gitu”, pikirku. Namun setelah kuterawang lebih jelas, mobil itu hampir sama dengan mobil yang biasa kukendarai kemanapun aku pergi. Mobil itu berwarna dasar putih, sama seperti kepunyaanku. Hanya saja mobil itu memiliki bercak-bercak coklat bekas cipratan lumpur dan ada sedikit bercak-bercak berwarna merah gelap hampir serupa dengan bekas darah yang telah mengering. Namun segera ku hilangkan pikiran itu karena aku sudah sampai di tempat tujuan.
Aku pun melompat dari angkot gila itu. “ Emang sopir angkot edaaan, gak lulus ujian SIM kali ya”, celotehku sambil membersihkan rok abu-abuku yang sedikit kotor gara-gara aku terjatuh pada saat turun dari angkot. Habisnya aku sudah bilang buat berhenti, tapi sopirnya tetep aja kenceng, akhirnya aku lompat deh. Tapi ada untungnya juga, aku jadi gak usah bayar.Hehehehehe….:-)

Gerbang putih yang sudah kusam itu terkunci dengan gembok berukuran sedang. “Tumben-tumbennya ne pager digembok. Apa Rizal lagi pergi kali ya?!?! Tapi kok gak sms aku sih?”, bisikku dalam hati. Aah ya sudah, lebih baik aku pulang ke rumah. “Mungkin jalan kaki lebih baik”, pikirku sambil bebalik meninggalkan rumah Rizal yang terlihat sepi.
***

Langkah menuju rumah pun udah gak seberapa jauh, kira-kira delapan rumah lagilah aku bisa sampai di depan rumah. Kupercepat langkahku karena aku sudah tak sabar untuk sampai di rumah. Tubuh yang sudah penuh dengan keringat serta tenggorokan yang mulai membutuhkan cairan pun semakin tak sabar untuk segera melepas semua kostum pelajarku dan mengisi mulutku dengan air putih yang segar. Namun kecepatan langkahku semakin berkurang. Kulihat banyak mobil dan sepeda motor yang terpakir tidak beraturan di pinggir jalan depan rumah.” Ada apa ya?”, tanyaku heran.
Entah kenapa hatiku serasa dag..dig..dug..saat aku melihat bendera putih berpalang hitam berkibar di atas pagar rumahku. Namun langkahku pun semakin cepat hingga kakiku telah melangkah masuk ke dalam pagar dan melihat banyak orang berkumpul di rumahku. “ Ada apa ini?”, tanyaku dengan perasaan yang tak karuan sambil melihat sekelilingku. Semua wajah hanya kaku tanpa ekspresi yang menunjukkan senyum yang berarti. Justru ekspresi sedih yang hanya ditampakkan. Kulihat Rani dan hampir semua temanku ada di sisi samping halaman rumahku. Kuhampiri mereka. “ Ran, ada apa ini? Siapa yang meninggal?”, tak ada jawaban sepatah katapun dari bibirnya yang tertutup rapat dengan wajah yang ditundukkan ke bawah.” Raaann..Kamu jawab dong..”,pintaku dengan mata yang mulai panas, entah karena apa.

Kupejamkan mataku sesaat untuk menetralkan keadaan mataku. Saat ku buka mataku kembali, kulihat Rizal duduk di sudut belakang halaman rumahku. Terlihat dari jauh bahwa ia sangat sedih. Kuhampiri Rizal dan semakin jelas di mataku bagaimana keadaan Rizal saat ini. Mata yang memiliki bulu mata yang lentik itupun mengeluarkan air matanya dengan deras hingga pipinya yang menggemaskan itu basah. Akupun merasa mataku kembali merasa panas karena melihat Rizal dengan keadaan seperti ini. Segera kuletakkan tas dan mapku disamping pot bunga bougenvil dan aku segera duduk disampingnya. “ Sayang, kenapa kamu nangis?”, tanyaku dengan suara yang agak sedikit bergetar. Tak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya justru tangisnya yang semakin menderu.”Sayang..ada apa ini? Jawab dong, jangan bikin aku penasaran.”, tanyaku lagi dengan mata yang udah meneteskan air mata tanpa bias kubendung lagi dan ku sentuh tangan Rizal. Tapiii..
“ Tuhan, kenapa aku? Di mana ragaku? Kenapa aku gak bias menyetuhnya.”, rintihku sambil berdiri, kutinggalkan Rizal sendiri dan berjalan ke dalam rumah. Terlihat Papa sedang memeluk mama yang ternyata sejak tadi sudah menangis dan sesekali kulihat juga jatuh pingsan. Kulihat disisi kiri ruang tamu dan ternyata ada sesosok tubuh kaku berselimutkan kain putih, gadis yang malang. Tak lain itu adalah tubuhku. Ragaku telah mati dan jiwaku tak dapat lagi menghidupkannya. Kuhampiri ragaku dan tersungkur aku disisinya. “ Kini, aku tak lagi bisa membahagiakan papa sama mama. Aku tak lagi bisa mewujudkan mimpiku untuk menikah dan mendampingi Rizal serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Tuhan mengapa ini terjadi?”, tangisku membahana seluruh alam yang tak tahu harus kunamakan alam apa.
***

Teringat kejadian tadi pagi. Pagi-pagi benar sekitar pukul 04.00, aku bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, segera ku berganti pakaian dengan t-shirt bergambar Donal Bebek, tokoh kartun kesayanganku dan celana selutut berwarna hitam. Tak lupa kukenakan sepatu olahragaku yang berwarna putih bervariasi dengan warna biru laut.

Tepat pukul 04.30, aku segera menuju garasi dan segera menghidupkan mobil jazz putihku dan pergi ke rumah Rizal. Pagi ini, aku memang punya janji untuk berolahraga pagi ke alun-alun kota, seperti hari-hari biasanya. Tak tahu kenapa ada sesuatu yang aneh terjadi pada mobil yang kukendarai ini. Dan setelah kusadari ternyata rem mobil’lu blong. Akupun panik, aku tak tahu harus bertindak apa?
“ Tuhan, tolong aku!!!!”, jeritku dalam kekalutanku di dalm mobil.
Namun dari arah berlawanan, kulihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, akupun tak bisa menghindarinya. Akupun tertabrak. Entah bagaimana keadaanku selanjutnya. Yang kutahu, kini aku telah pergi untuk selama-lamanya. Meski aku telah tiada di dunia, tapi aku percaya. Aku akan tetap hidup di hati keluargaku dan di hati Rizal.
SELAMAT TINGGAL...

baca juga perjuangan cinta yang akhirnya sia-sia



Sunday, March 12, 2017

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Perkembangan, dan Penyebarannya



Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Perkembangan, dan Penyebarannya
                                                     
.

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Islam di Indonesia diyakini oleh sekitar 199.959.285 jiwa atau 85,2% dari total jumlah penduduknya. Masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia hingga bisa mencapai jumlah penganut yang begitu besar itu ternyata telah melalui sejarah yang sangat panjang. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia tersebut melalui periodisasi atau pembabakan-pembabakan yang cukup menarik untuk kita ketahui. Seperti apa periodisasi sejarah Islam di Indonesia tersebut, silakan simak pembahasan kami berikut. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia Terkait dengan sejarah masuknya Islam ke Indonesia, ada beberapa teori dan pendapat yang menyatakan kapan sebetulnya pengaruh kebudayaan dan agama Islam mulai masuk ke nusantara. Pendapat-pendapat tersebut bukan hanya didasarkan pada bukti-bukti yang telah ditemukan, melainkan juga dikuatkan oleh adanya catatan-catatan sejarah yang dibuat oleh bangsa lain di masa lampau. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
 1. Masuknya Islam sejak Abad ke-7 Masehi Sebagian ahli sejarah menyebut jika sejarah masuknya Islam ke Indonesia sudah dimulai sejak abad ke 7 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada berita yang diperoleh dari para pedagang Arab. Dari berita tersebut, diketahui bahwa para pedagang Arab ternyata telah menjalin hubungan dagang dengan Indonesia pada masa perkembangan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7. Dalam pendapat itu disebutkan bahwa wilayah Indonesia yang pertama kali menerima pengaruh Islam adalah daerah pantai Sumatera Utara atau wilayah Samudra Pasai. Wilayah Samudra Pasai merupakan pintu gerbang menuju wilayah Indonesia lainnya. Dari Samudra Pasai, melalu jalur perdagangan agama Islam menyebar ke Malaka dan selanjutnya ke Pulau Jawa. Pada abad ke 7 Masehi itu pula agama Islam diyakini sudah masuk ke wilayah Pantai Utara Pulau Jawa. Masuknya agama Islam ke Pulau Jawa pada abad ke 7 Masehi didasarkan pada berita dari China masa pemerintahan Dinasti Tang. Berita itu menyatakan tentang adanya orang-orang Ta’shih (Arab dan Persia) yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Kaling di bawah pemerintahan Ratu Sima pada tahun 674 Masehi. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
 2. Masuknya Islam sejak Abad ke-11 Masehi Sebagian ahli sejarah lainnya berpendapat bahwa sejarah masuknya Islam ke Indonesia dimulai sejak abad ke 11 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada bukti adanya sebuah batu nisan Fatimah binti Maimun yang berada di dekat Gresik Jawa Timur. Batu nisan ini berangka tahun 1082 Masehi. 3. Masuknya Islam sejak Abad ke-13 Masehi Di samping kedua pendapat di atas, beberapa ahli lain justru meyakini jika sejarah masuknya Islam ke Indonesia baru dimulai pada abad ke 13 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada beberapa bukti yang lebih kuat, di antaranya dikaitkan dengan masa runtuhnya Dinasti Abassiah di Baghdad (1258), berita dari Marocopolo (1292), batu nisan kubur Sultan Malik as Saleh di Samudra Pasai (1297), dan berita dari Ibnu Battuta (1345). Pendapat tersebut juga diperkuat dengan masa penyebaran ajaran tasawuf di Indonesia. Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia Pada masa kedatangan agama Islam, penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pedagang Arab dibantu oleh para pedagang Persia dan India. Abad ke 7 Masehi merupakan awal kedatangan agama Islam. Pada masa ini, baru sebagian kecil penduduk yang bersedia menganutnya karena masih berada dalam kekuasaan raja-raja Hindu-Budha. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia dan proses penyebarannya berlangsung dalam waktu yang lama yaitu dari abad ke 7 sampai abad ke 13 Masehi. 
Selama masa itu, para pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia makin intensif menyebarkan Islam di daerah yang mereka kunjung terutama di daerah pusat perdagangan. Di samping itu, para pedagang Indonesia yang sudah masuk Islam dan para Mubaligh Indonesia juga ikut berperan dalam penyebaran Islam di berbagai wilayah Indonesia. Akibatnya, pengaruh Islam di Indonesia makin bertambah luas di kalangan masyarakat terutama di daerah pantai. Pada akhir abad ke 12 Masehi, kekuasaan politik dan ekonomi Kerajaan Sriwijaya mulai merosot. Seiring dengan kemunduran pengaruh Sriwijaya, para pedagang Islam beserta para mubalighnya kian giat melakukan peran politik. Misalnya, saaat mendukung daerah pantai yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya. Menjelang berakhirnya abad ke 13 sekitar tahun 1285 berdiri kerajaan bercorak Islam yang bernama Samudra Pasai. Malaka yang merupakan pusat perdagangan penting dan juga pusat penyebaran Islam berkembang pula menjadi kerajaan baru dengan nama Kesultanan Malaka. Pada awal abad ke 15, kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan, bahkan pada tahun 1478 mengalami keruntuhan. Banyak daerah yang berusaha melepaskan diri dari kerajaan Majapahit. Pada tahun 1500, Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Berkembangnya kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam ini kemudian disusul berdirinya Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon. Di luar Jawa juga banyak berkembang kerajaan yang bercorak Islam seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Gowa, dan kesultanan Banjar. Melalui kerajaan-kerajaan bercorak Islam itulah, agama Islam makin berkembang pesat dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Agama Islam tidak hanya dianut oleh penduduk di daerah pantai saja, tetapi sudah menyebar ke daerah-daerah pedalaman. Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia Saluran Penyebaran Agama Islam di Indonesia Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia berlangsung secara bertahap dan dialakukan secara damai melalui beberapa saluran berikut: Saluran perdagangan, proses penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pedagang muslim yang menetap di kota-kota pelabuhan untuk membentuk perkampungan muslim, misalnya Pekojan. Saluran ini merupakan saluran yang dipilih sejak awal sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Saluran perkawinan, proses penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara seseorang yang telah menganut Islam menikah dengan seorang yang belum menganut Islam sehingga akhirnya pasangaannya itu ikut menganut Islam. Saluran dakwah, proses penyebaran Islam yang dilakukan dengan cara memberi penerangan tentang agama Islam seperti yanbg dilakukan Wali Songo dan para ulama lainnya. Saluran pendidikan, proses ini dilakukan dengan mendirikan pesantren guna memperdalam ajaran-ajaran Islam yang kemudian menyebarkannya. Saluran seni budaya, proses penyebaran Islam menggunakan media-media seni budaya seperti pergelaran wayang kulit yang dilakukan Sunan Kalijaga, upacara sekaten, dan seni sastra. Proses tasawuf, penyebaran Islam dilakukan dengan menyesuaikan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi pada ajaran agama Hindu dan Budha. Alasan Agama Islam Mudah Diterima Masyarakat Indonesia Proses penyebaran Islam di Indonesia berjalan dengan cepat karena didukung faktor-faktor berikut : Syarat masuk Islam sangat mudah karena seseorang dianggap telah masuk Islam jika ia telah mengucapkan kalimah syahadat. Pelaksanaan ibadah sederhana dan biayanya murah. Agama Islam tidak mengenal pembagian kasta sehingga banyak kelompok masyarakat yang masuk Islam karena ingin memperoleh derajat yang sama. Aturan-aturan dalam Islam bersifat fleksibel dan tidak memaksa. Agama Islam yang masuk dari Gujarat, India mendapat pengaruh Hindu dan tasawuf sehingga mudah dipahami. Penyebaran agama Islam di Indonesia dilakukan secara damai tanpa kekerasan dan disesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang ada. Runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke 15 yang memudahkan penyebaran Islam tanpa ada pembatasan dari otoritas kerajaan Hindu-Budha. Nah, itulah sejarah masuknya Islam ke Indonesia serta penyebarannya hingga abad ke-13. Simak juga bagaimana sejarah perkembangan Islam di Indonesia dan peta jalur masuknya pada artikel selanjutnya.



Friday, March 10, 2017

Cinta segitiga (antara aku, kau dan sahabatku)



Cinta segitiga (antara aku, kau dan sahabatku)


Awal pndekatan antara aku(Ari) dan Nasya memang sudah beda. Semuanya serba tak di duga. Semua bermula saat liburan kelas kami. Itu terjadi saat kami masih duduk di bangku kelas satu SMA. Aku mulai mendekati Nasya dan terus mendekatinya. Dan sepertinya ada harapan yang Nasya berikan pada ku. Hingga tak ada kata ragu untukku terus mendekatinya. Sampai pada malam saat aku mengungkapkan perasaanku padanya dan memintanya untuk menjadi kekasihku. Dan jawaban yang di berikannya sungguh di luar dugaan. Dia menolak untuk menjadi kekasihku. Namun, Nasya memberikan penjelasan padaku, bahwa ia sedang tidak ingin terikat dalam sebuah hubungan. Tapi dalam sela sela penjelasanya itu ia menyatakan bahwa ia memiliki perasaan yang sama terhadapku seperti rasa yang aku miliki untuknya hanya saja Nasya belum siap untuk berkomitmen dalam hubungan. Setahun kami dekat tanpa kejelasan. Bagiku itu cukup lama, tapi perasaan ini membuatku terus bertahan dengannya. mencoba terus dan terus berusaha. dengan tujuan pada suatu saat nanti aku dan Nasya bisa menjalin sebuah hubungan. Semakin lama aku dan Nasya semakin dekat saja. Bahkan rasa yang aku miliki untuknya semakin menggebu diriku. Berkali kali aku mencoba mengungkapkan isi hati ini bahwa aku ingin ia menjadi milikku seutuhnya dan menuntut kejelasan status di antara kami. Tapi berkali kali juga Nasya mengatakan "Apa pentingnya sebuah status". Namun, Kesabaran yang aku miliki pada akhirnya tertebus juga. Kau menjadi milikku seutuhnya. Dengan satu catatan, ''jangan di publikasikan''. Aku menerima saja syarat darinya karna aku tak peduli apapun itu yang terpenting adalah dirinya sekarang milikku. Betapa lamanya hati ini menunggu hingga akhirnya sampai kepada seperti apa yang diharapkan. Aku gembira tak kepalang. Aku dan Nasya pun telah sering jalan bersama. Sampai akhirnya kami lulus dari SMA dan kuliah di luar kota. Dan Nasya pun kuliah di satu kota yang sama denganku. Kita larut dalam buaian cinta kita.di saat saling berbagi denganmu adalah keindahan bagiku. Kami selalu berbagi cerita apa yang terjadi di kehidupan masing masing. Tak ada rahasia di antara kami. Kami saling percaya dan saling menyayangi. Nasya menceritakan tentang seseorang yang sangat menyukainya padaku. Dari dulu seseorang itu suka padanya. Sejak kelas tiga SMP Sampai sekarang hubungan antara Nasya dan seseorang itu masih berlanjut. Aku tak pernah menanyakan nama seseorang itu karna sangat malas sebenarnya aku mendengarkan cerita itu. Aku takut dia itu mempunyai sesuatu yang lebih dariku dan aku takut kehilangan Nasya. Sampai akhirnya nasya memberitahukan nama seseorang itu padaku tanpaku tanya. Aku sungguh tak menyangka ternyata seseorang itu adalah Ilham sahabatku saat aku masih duduk di bangku kelas satu SMP. Aku semakin tak tau harus bagaimana. Aku dan Nasya terus menyembunyikan hubungan kami pada siapapun. Aku mulai terus dan terus mempertanyakan hubungan antara Nasya dan Ilham. Seringkali aku marah, kesal, benci krna hal ini. Sampai pada saat aku berjumpa dengan ilham secara tak sengaja Aku tak menyangka Ilham menceritakan semuanya tentangnya dan Nasya padaku. Semua jelas tercerita olehnya. Perih hati ini mendengarnya, tak sanggup hingga rasanya ingin lari dari hadapannya. Telah berulang kali iLham menyatakan perasaannya pada Nasya. Namun Nasya hanya menggapnya sebagai seorang sahabat saja tak lebih dari itu. Tapi bagi Ilham itu adalah sebuah harapan untuknya. Aku dan Nasya terus dan terus mencari solusi dari masalah ini. Seringkali aku dan Nasya menangis karena hal ini. Aku : Tak ingin kehilngan Nasya, dan kenangan kenangan yang telah ku lalui bersama dirinya. Aku juga risih dengan perasaan yang ilham miliki untuk Nasya. Nasya : Tak ingin kehilangan sahabat Dan tak ingin melepaskan aku Ilham : Tak tau apa apa Aku terlalu mencintai Nasya dan Nasya terlalu berarti di kehidupanku tapi di sisi lain aku memikirkan perasaan sahabatku. Aku hanya ingin tak ada yang terluka di antara kita dan aku yakin tuhan memberikan jalan keluar suatu saat nanti.

Sunday, March 5, 2017

Pengorbanan Cinta Yang Berakhir Bahagia

Pengorbanan Cinta Yang berakhir Bahagia

Ini yang sekian kalinya Adit menelpon Dewi dengan gombalannya,meski Adit dengan Dewi belum pernah ketemu dan keduanya belum saling mengenal,Namun Adit yakin kalau Dewi adalah wanita yang ia idamkan.
Perkenalan lewat media sosial membuatnya saling mempunyai kecocokan,adakalanya Dewi sering curhat kalau lagi galau dan Aditlah yang selalu menenangkannya. Keduanya saling melengkapi.Pernah Adit mengajak ketemuan tapi selalu saja Dewi menolak menurutnya belum waktunya tapi suatu saat pasti dipertemukan ungkapnya.Karna itu Adit tidak lagi memaksa Dewi untuk mengajak ketemu,biar Dewi saja yang menentukan kapan ketemunya.
Obrolan malam itu membuat Dewi berbunga-bunga karna Adit selalu saja meyakinkan Dewi kalau dirinya benar-benar suka padanya.Begitu juga yang dirasakan Dewi sama perasaannya yang menaruh suka pada Adit namun Dewi masih malu untuk mengungkapkannya,karna sejujurnya Dewi masih belum yakin kalau Adit sebegitu cepatnya menaruh rasa suka padahal dia belum tahu keadaan fisik Dewi sebenarnya.
Semenjak Kejadian kecelakaan itu membuatnya harus bertumpu di kursi rodanya karna kaki Dewi mengalami kelumpuhan permanen.Menurut Dokter kaki Dewi tidak dapat disembuhkan itu yang membuat Dewi sedih dengan keadaan fisik dirinya,apalah jadinya jika Adit mengetahui kondisi Dewi yang tidak sempurna pasti akan membuatnya kecewa.Itulah sebabnya mengapa Dewi Belum siap untuk bertemu dengan Adit.
Kata-kata cinta itu menggetarkan hati Dewi.
"Dewi aku yakin kamulah wanitaku...? Ujar Adit merayu.
"Kenapa kamu sebegitu yakinnya,kau dan aku belum saling bertemu...? Jawab Dewi.
"Memang,tapi entah mengapa perasaan ini selalu tenang jikalau mendengar suaramu...?Jawab Adit kembali meyakinkan Dewi.
"Berarti kamu suka sama suaraku aja dong...?Jawab Dewi kembali
"Emmm nggak juga,orangnya juga aku suka,kamu cantik dan anggun...?
"Makasih mas,jangan kebanyakan ngegombal ntar kecewa lagi.
"Kenapa harus kecewa,kamu bukan laki-laki kan...?
Keduanya saling menikmati obrolan malam itu apalagi Adit selalu menghibur Dewi dengan candaannya.Karna malam sudah semakin larut keduanya juga sudah mengantuk waktunya bobo cantik dan mimpi indah.
Sambut pagi dengan Senyum indahmu dan gapai mentari dengan jiwamu.
"Dewi,ayo sarapan sayaang...?Sapa ibu memanggil Dewi yang masih di kamarnya.
"Iya bu,Dewi menyusul...?Jawab Dewi.
Kasih sayang seorang ibu memang tidak pernah tergantikan bahkan disaat anaknya harus sakit dengan kondisi fisik yang tidak sempurna dan membutuhkan suport dan dukungan untuk tetap semangat menjalani hidup.Itulah yang selalu Ibu berikan untuk Dewi anak semata wayangnya.Bahkan ibu Dewi selalu berusaha membuat Dewi agar tetap selalu tersenyum ceria meski kondisi yang tidak sempurna.
"Dewi hari ini cek up yah...?
"Percuma mah,kaki Dewi nggak bakalan bisa sembuh...?
"Sayang kamu jangan bilang begitu dong,kamu harus optimis kaki kamu bisa sembuh itu kan baru kata dokter...?
"Kalo bukan kata dokter kata siapa lagi mah,kaki Dewi tuh lumpuh permanen dan itu nggak bakalan sembuh...?
"Siapa tahu ada keajaiban,kan tidak tahu,dokter bisa saja berkata begitu tapi kalo Dewi ada kemauan untuk bisa sembuh pasti Allah memberikan kesembuhan pada kaki Dewi,mau yah sayang...?
"Ya udah tapi mamah selalu dampingin Dewi yah...?
"Iya sayaaang,kan kamu anak mamah,senyum dong...?
Hari ini adalah jadwal Dewi untuk cek up, terkadang Dewi merasa bosan karna menurutnya kelumpuhan yang diderita kakinya itu tidak bakalan sembuh.Nyatanya sudah sering cek up dan terapi namun belum ada tanda-tanda kesembuhan pada kakinya itu,sehingga membuat Dewi patah semangat untuk bisa sembuh.Ibu Dewilah yang selalu memberi semangat kepada Dewi karna ibunya tidak mau Dewi terus bersedih dan merasa tidak pede jika didepan umum.
Mengenal Dewi dulu dia sosok wanita yang ceria,banyak lelaki di kampusnya yang mengagumi kecantikannya itu.Namun setelah apa yang dialami yang menjadikan kaki Dewi lumpuh membuatnya berubah menjadi wanita yang pendiam dan selalu tidak pede jika di depan umum.Sehingga mengharuskan Dewi untuk berhenti kuliah.Mungkin hanya sementara sampai ada kemauan untuk Dewi kembali kuliah.Ibunya tidak memaksakan keputusan Dewi itu.
Disaat yang bersamaan Adit juga akan menjenguk temannya yang sedang dirawat di rumah sakit,dan kebetulan Rumah sakit yang dituju sama dengan Dewi dimana Dewi akan melakukkan cek up terapi.Ada pemandangan mengharukan saat Adit keluar dari mobilnya terlihat seorang ibu yang susah payah menurunkan putrinya dari mobil,di situ Adit merasa iba dengannya dan mendorong Adit untuk membantu merangkulnya.Entah mengapa perasaan Adit ada yang aneh saat ia harus berusaha merangkul Dewi.Perasaan itu seperti sudah mengenal dekat dengannya dan jika dipandang tidak asing wajanya.Dewi belum merasa sadar bahwa dirinya dibantu oleh lelaki yang selama ini menyukainya.
"Terima kasih mas...?Sapa ibu Dewi saat membukakan kursi roda Dewi.
"Iya sama-sama bu,ini anaknya...? Jawab Adit dan bertanya.
"Iya mas...?
"Oh,kalo begitu saya duluan bu...?
"Iya mas...?
Dewi yang masih sibuk membetulkan posisi duduknya,dan masih belum memandang ke arah Adit tiba-tiba terdiam dan berkata dalam hatinya "siapa lelaki itu sepertinya aku mengenalnya".Ibu Dewi yang melihat Dewi sedang bengong dikagetkannya.
"Baik sekali yah lelaki itu,kamu mengenalnya...?
"eh, nggak Dewi tidak kenal...?
"Tapi mengapa pandangan kamu terus mengarah ke lelaki itu...?
"Mamah apaan sih...?
Adit masih merasa penasaran saat menolong wanita tadi,ia tidak mengerti mengapa hatinya selalu berkata-kata seolah-olah kenal dengannya.Dan pertemuan itu terjadi kembali saat Dewi akan pulang dari Rumah sakit dan seketika itu juga Adit keluar dari sebuah kamar inap rawat,.Kedua saling menatap tajam sampai-sampai Ibu Dewi bingung dan heran,dengan spontan Ibu Dewi mengagetkan Dewi kembali.
"Dewi kamu kenal...?
"apah,Dewi, nama kamu Dewi..?Jawab Adit yang tiba-tiba kaget dan mengalihkan pandangannya ke Ibu Dewi.
"Iya,namaku Dewi emang kenapa ada yang salah...! Jawab Dewi ketus.
"Sepertinya aku mengenalmu tapi dimana yah.
"Mas ini kan yang tadi nolong kamu,Sayang ...?Ujar ibu kepada Dewi.
"Apaah mah,jadi dia yang sudah nolong Dewi,ko Dewi baru ngeh yah..?Jawab Dewi bingung.
"Nama saya Adit tante...?
"Apah,Adit,ayo mah kita cepet pulang...?Jawab Dewi sambil memutarkan kursi rodanya meninggalkan Adit.
"Dewi tunggu,aku ingin berbicara sesuatu denganmu...?
"Dewi siapa Adit itu,kamu kenal dia...?Tanya ibu Dewi sambil mendorong kursi rodanya Dewi.
Tanpa menghiraukan Adit yang terus mengejarnya,namun Dewi tetap pergi meninggalkan Adit tanpa sepatah kata pun terucap,sebenarnya Dewi merasa bersalah pada Adit,Dewi merasa malu dengan kondisi fisik yang belum diketahui sama Adit sebelumnya.Namun disisi lain Adit masih merasa peduli buktinya setelah pertemuannya di rumah sakit Adit masih menelpon Dewi dan kali ini Adit benar-benar yakin kalau Dewilah wanita yang dicintainya.Adit menjelaskan keyakinannya untuk tetap serius dengan Dewi meski Dewi masih saja menolak karna kondisi fisik Dewi yang tidak sempurna.Namun ketulusan cinta Adit kepada Dewi membuatnya untuk menerima kekurangan Dewi.Adit berjanji akan membahagiakan Dewi dan mengembalikan Dewi seperti dulu.
"Kamu tau aku wanita tidak sempurna,aku cacat carilah wanita yang lebih baik dari aku..?"Ujar Dewi pada Adit dalam teleponnya.
"Aku menerima kekuranganmu,aku mencintai kamu dengan tulus,apapun yang terjadi kau adalah wanita pilihanku,percayalah dewi aku akan selalu menjagamu dan merawatmu dengan ikhlas..? Jawab Adit dengan keseriusannya.
Mendengar kata-kata Adit tanpa disadari Dewi meneteskan airmatanya.Rasa terharu dan bahagia yang dirasakan Dewi saat itu.Dengan begitu tulusnya Adit mencintai Dewi dan menerima kekurangannya.Sungguh Allah telah mempertemukan mereka dalam cinta yang indah.Perkenalan Adit dan Dewi berakhir dengan sebuah ikatan pernikahan.Keduanya berjanji untuk saling bersama dalam cinta,menerima kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Diakhir cerita Adit sangat setia dan sabar dengan kondisi Dewi yang lumpuh,Adit selalu mendorong Dewi untuk bisa sembuh,setiap minggunya Adit mengajak Dewi untuk terapi,dan hasilnya sedikit demi sedikit perubahan pergerakan terlihat dari jari-jari lentik Dewi,itu artinya Dewi bisa sembuh dan dapat berjalan seperti dulu lagi.Begitu besar perjuangan dan pengorbanan cinta Adit kepada Dewi.Semoga cinta mereka sampai akhir hayat

Disqus Shortname

Comments system